ada sebuah SENYUMAN yg terkembang di balik semua FANTASI yg di tuliskan :)

Senin, November 17

menunggumu pulang


Malam ini ramai, tanpa rintik hujan seperti kemarin. Sama seperti aku, sekelilingku ramai, tanpa ada kamu di sisiku. Selamat malam kamu, yang entah masih bisa aku panggil kekasih atau tidak. Semoga malam mu ini seramai antrian pom bensin di luar sana.

Hari ini aku mengahbiskan waktuku, bukan untuk berfoya foya, hanya saja untuk menghilangkan sesak. Hari ini aku menghabiskan waktuku di tamna bermain. Kamu tau? Iya, taman bermain yang pernah kita kunjungi. Tak banyak yang berbeda dari taman bermain tersebut. hanya saja mungkin yang berbeda adalah kali ini aku tidak datang bersamamu, melainkan bersama teman temanku. Aku rindu.

Langit siang tadi mendung, mengiringi aku dalam perjalanan ke tempat itu. Memang sudah pernah aku tolak ajakan temanku untuk pergi ke taman bermain itu, entah kenapa pagi tadi semuanya berubah. Aku memutuskan untuk ikut bergabung. Hujan deras dalam perjalanan menemani lamunanku tentangmu, tentang aku yang mungkin saja bertemu kamu dengan gadis lain, mengingat taman bermain itu tidak jauh dari tempatmu menuntut ilmu. Aku terdiam.

Sesampainya di taman bermain, aku memang menikmati setiap wahana yang ada. Melepaskan semua jeritan hingga lemas. Ah akhirnya aku tau, kenapa pada akhirnya aku memutuskan untuk bergabung. Mungkin aku berharap dengan cara seperti itu aku dapat melepaskan sedihku sejenak. Walau aku tau, banyak kenangan tentang aku dan kamu, tentang kita di tempat itu. Aku termenung.

belum cukup sampai disitu, belum cukup tuhan membawaku kembali pada beribu kenangan akan dirimu kala itu. Bisakah kamu menebak kemana perginya aku setelah taman bermain? Aku dan teman temanku memutuskan untuk makan malam, makan makanan kesukaanmu. Aku terduduk di sebuah kursi di kedai bakso, kedai bakso yang berada di ujung jalan itu. Ingat? Kita juga kesana setelah kita puas di taman bermain itu. Iyakan? Apa kamu masih ingat? Aku membisu.

Ada saja cara tuhan untuk selalu mengingatkan aku padamu. Pada semua kenangan kita yang telah terukir sejak kita masih berseragam putih abu. Terlalu banyak cerita, suka dan duka yang telah kita lewati bersama selama itu. Indah saat kita selalu bersama setiap hari tanpa pernah waktu terlewati sendiri, tapi sekarang semuanya berbeda. Mungkin aku da n kamu belum siap di pisahkan jarak dan waktu. Mungkin ini salahku, yang kini terlalu sibuk tentang apa yang aku jalani. Mungkin ini salahku yang tidak sempat menanyakan sedikit saja kabarmu kala kita masih bersama.

Sekarang, aku tak tau tentang kabarmu. Aku tak tau apa yang sedang kau jalani saat ini. Aku tak pernah tau sesuatu tentangmu. Mungkin kini kau sudah bahagia dengan gadis baru pilihanmu, yang akan selalu ada di sampingmu. Tidak seperti aku yang jauh entah dimana. Yang selalu sibuk dengan semua organisasinya. Mungkin kini tak ada aku lagi di pikiran bahkan hatimu.

Aku rindu dekapanmu di kala aku gelisah, aku rindu saat kau hapuskan air mataku saat gundah. Aku benci dengan keadaan sekarang ini. Tapi inilah nyatanya, hanya ada dodo dan didi yang aku dekap, hanya ada tanganku yang mengusap.  Mungkin kamu tidak akan pernah memperdulikan tulisan ini. Tapi ini membantuku merasa lebih tenang. Salahku yang tidak pernah menceritakan semua masalah yang terjadi belakangan ini. Sejujurnya aku tidak mau membebani mu lebih banyak.

Tak ada yang bisa aku perbuat lagi pada rindu ini. Ku titipkan doa untukmu lewat tuhan selalu. Bukan salahmu jika kamu pergi. Bukan salahmu jika kamu bosan. Biar, biar semua terjadi. Biar kamu pergi, tapi pastikan kamu tau kemana kamu akan pulang. jika saja ada kesempatan bagi kita untuk memulai kembali semuanya dari awal, dan menjadikannya selalu bahagia. Jika mungkin suatu saat nanti kamu rindu, kamu pasti tau kemana harus mencariku. Aku pasti akan tetap berada disitu, menunggumu pulang membawa senyuman. Terima kasih kekasih hati.
Untuk kamu pengisi hati,
Dari aku kekasihmu
Yang rindu
Dan mennggumu pulang

Minggu, November 16

tabunganku?

kemana perginya rembulan saat mentari datang?
kemana perginya matahari saat bumi di guyur hujan?
kemana perginya hujan saat pelangi menampakan warnanya?

sore ini rasa itu kembali muncul. rasa yang tak pernah aku pahami. rasa yang membuat tubuh ini gemetar. rasa yang membuat dada ini sesak setengah mati.raasa yang membuat jantung ini berdetak lebih cepat dari biasanya. rasa yang membuat air mata jatuh dengan bebasnya. rasa yang membuatku terduduk lemas tanpa daya.

sore ini cuaca di luar rumah mendung. mentari enggan mengeluarkan kilaunya, hujan pun malu malu untuk menginjakan bulirnya di tanah ini, hanya awan yang sedari tadi bulak balik menguasai langit yang tadinya biru menjadi sendu. rumah ini kosong di tinggal para penghuninya, hanya ada aku yang sibuk bermalas malasan dengan selimut dan remote tv nya.

entah apa yang merasuk, entah apa yang tiba tiba melintas dalam pikiranku. dadaku sakit, dan dengan anggunnya air mata ini menari di pelupuk mata tanpa ada komando dari siapapun. tangis tanpa suara, tangis yang membuat nafasmu sulit di atur. tangis yang menyesakkan. tangis tanpa sebab yang pasti. tangis konyol tanpa arti. aku terduduk di tempat tidurku.

ini memang bukan kali pertamanya aku menangis seperti ini, ini juga bukan kali pertamanya aku bingung, kenapa diriku ini? apa yang salah? apa aku gila? apa aku depresi? apa aku harus ke psikiater? aku tak perna tau pasti mengapa ini bisa terjadi. tapi yang aku tau, mungkin ini adalah sebuah titik dimana apa yang kau kumpulkan sejak lama, lama lama akan memenuhi tempatnya, lama lama isi dalam tempat itu akan keluar. seperti air yang kau tuangkan dalam gelas, jika terus menerus, air itupun akan tumpah dari gelasnya. begitupun sedih.

kemana kamu akan pergi saat kamu merasa tidak ada satupun tempat pelarian yang dapat menyejukkan hati? kemana kamu akan berlari jika suasa muram selalu mengikuti? dimana kamu akan bersembunyi saat tak ada tempat yang dapat di singgahi? saat kamu tak pernah tahu arah tujuan yang tepat untuk mengusir segala rasa dan asa. saat air mata memaksa untuk keluar. saat semua rasa tak mempunyai makna.

jika boleh menebak nebak, mungkin adalah sebuah tabunganku yang sudah penuh, tabungan yang sudah tidak dapat lagi menampung isinya, hingga akhirnya keluar tanpa sebab. tabungan sedihku? kata orang akan lebih ringan bila sedihmu di bagi pada orang lain. tapi pada kenyatannya orang lain juga memiliki masalah, memiliki sedihnya sendiri. dan untuk apa aku membagi punyaku pada mereka?

biar, biarlah mereka dengan urusannya, dan aku dengan urusanku. aku tidak perlu orang yang mau di bagi dengan sedihku, yang mau menolongku keluar dari sedih ini. apalagi orang tidak bisa membuatku bersedih. karna aku tau takan ada orang yang setulus itu. aku hanya perlu orang yang mau meminjamkan bahunya saat aku gelisah, menghapuskan air mataku saat aku menangis, mendekapku saat aku terisak, dan pada akhirnya mengubah sedihku menjadi senyuman yang baru.

semua orang pasti punya sedihnya sendiri, apapun sebabnya. tidak akan ada orang yang selalu ceria tanpa setitikpun kesedihan. yang ada hanyalah orang dengan seribu topengnya. orang yang mampu menutupi sedihnya di hadapan orang lain, orang yang mampu tersenyum dan tertawa tanpa memperlihatkan lukanya pada dunia.

semoga pada waktunya nanti, setiap orang punya obat penyembuh luka dan sedihnya sendiri.

Jumat, November 14

seribu tahun lamanya - tulus

Bila kau sanggup untuk melupakan dia 
Biarkan aku hadir dan menata
Ruang hati yang telah tertutup lama 

Jika kau masih ragu untuk menerima
Biarkan hati kecilmu bicara 
Karena ku yakin kan datang saatnya 

Kau jadi bagian hidupku 
Kau jadi bagian hidupku 
Kau jadi bagian hidupku

Takkan pernah berhenti untuk selalu percaya 
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya 
Biarkan terjadi wajar apa adanya 
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya 

Jika kau masih ragu untuk menerima
Biarkan hati kecilmu bicara 
Karena ku yakin kan datang saatnya 

Kau jadi bagian hidupku 
Kau jadi bagian hidupku 
Kau jadi bagian hidupku
 
Takkan pernah berhenti untuk selalu percaya 
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya 
Biarkan terjadi wajar apa adanya 
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya 

Selama apapun itu selama apapun itu 
Aku kan setia menunggu

Takkan pernah berhenti untuk selalu percaya 
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya 
 Biarkan terjadi wajar apa adanya 
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya

Takkan pernah berhenti untuk selalu percaya 
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya 
 Biarkan terjadi wajar apa adanya 
Walau harus menunggu seribu tahun lamanya
untuk kamu
lelaki sederhana
di tepi sana