“ternyata dia bukan matahari, dia hanya pelangi yang hadir
dengan segala warnanya yang indah tapi hanya sejenak – mengejar matahari, 2004”
Seperti daun yang tak pernah
membenci angin yang telah menjatuhkannya ke tanah.
Seperti embun yang tak pernah
membenci mentari yang telah membuatnya tiada arah.
Seperti batu yang tak pernah
membenci hujan yang membuatnya terkikis terbelah.
Seperti langit yang tak pernah
membenci mendung yang telah megahalangi birunya yang indah.
Aku, yang tak akan pernah
membencimu yang telah menjadikanku bayang bayang, enyah.
Entah apa yang aku rasakan kali
ini. Haruskah aku senang? Haruskah aku sedih? Atau haruskah aku marah? Aku tak
tahu pasti, aku masih terdiam.
Detik demi detik terus bergerak
maju, membuat irama yang sama. Langit siang itu sedang bersemangat, sehingga
matahari pun tak mau kalah memancarkan sekuat tenaga sinarnya. Aku masih
terdiam, terduduk di kursi belakang bus yang akan membawaku pulang. Tidak menghiraukan
sekitar, hanya tertarik pada gumpalan awan di langit yang sedari tadi hilir
mudik mengejek aku yang termenung terdiam penuh tanya. Apa yang sebenarnya
terjadi?
Aku yang menganggap semuanya baik
baik saja. Aku yang menganggap semuanya berjalan dengan tenang. Aku yang tak
pernah memikirkan ‘hatimu bebas’. Hari itu di buat sibuk oleh kelakuan otak dan
hatiku yang bertengkar soal ‘rasa’. Satu kalimat dari gadis itu, yang membuat
otak mulai berpikir dan hati mulai menangis. Ini terjadi lagi. Aku lelah.
Otakku selalu berkata, jangan di
buat bodoh oleh kelakuan ini yang tak pernah tau arah dan tujuannya, yang tak
pernah tau dimana nantinya semua ini akan berakhir. Hidup bukanlah sebuah
lelucon yang dengan mudahnya bisa membuatmu tertawa dan semua terasa ringan. Hidup
bukanlah sebuah sandiwara di televisi yang selalu berakhir indah. Aku harus
membuka mataku, masih banyak jalan yang bisa di lalui. Masih banyak tujuan yang
lebih menjanjikan.
Namun hati selalu berkata,
kesabaran akan berbuah manis. Tuhan tidak akan pernah membiarkan umatnya
terjerumus pada apa yang tidak seharusnya. Di ujung jalan nanti, yakinlah ada
hal yang indah. Yakinlah kesabaranmu akan berbuah, dan akan kau petik lalu rasakan
hasilnya kelak. Percayalah kata hatimu, karna kata hatimu adalah sesuatu
yangpaling kau inginkan namun tak bisa di ucapkan.Mereka tak pernah sejalan,
tak pernah beriringan.
Kau tau? Nyatanya diam diam aku
mendukung hatiku, memenangkannya, dan menurut padanya. Tak memperdulikan otakku yang masih sibuk
memberikan berbagai rambu peringatan. Rasanya percuma. Urusan hati seperti ini
tidak pernah aku melibatkan otakku. Sebagaimanapun hatiku akan selalu di buat
menang.
Hal tersulit adalah saat pada
kenyataanya hatiku telah kalah. Hati ini salah menafsirkan setiap kata dan
kejadian. Hati ini hanya melihat kefatamorganaan hidup. Hati ini di butakan
oleh janji janji manis yang di buatnya sendiri. Tentang cerita kebahagiaan masa
depan yang nyatanya ia karang sendiri. Yang sebenarnya tak ada satupun yang
tau, dimana semua ini akan berakhir.
Kamu pasti mengerti kemana arah
semua perkataan ini. Aku yakin kamu pintar. Dan kamu akan dengan mudahnya
menerjemahkan tentang semua yang tertulis disini. Tentang perasaanku, keadaanku
dan segala tentang masalah hati dan otak. Aku berterima kasih.
Mungkin aku senang karena akan
terus melihatmu dengan semangat baru yang berkobar dalam dadamu, dan juga
senang karna akan ada senyum yang selalu terlukis di bibir itu. Mungkin aku
bersedih karena apa yang membuatku bersemangat kini telah padam, dan bersedih
karna penyebab senyummu itu nyatanya bukan aku. Mungkin aku marah karena
terlalu bodoh mengagungkan namamu di hatiku, dan aku marah karna telah berlaku
tak seharusnya selama ini.
Hai kamu yang
mampu menarikku keluar dari dunia yang selama ini membuatku berkelana tanpa
ujung. dunia gelap yang tidak menyisakan cahaya. bahkan hanya untuk melihat
setitik harapan. Terimakasih telah menjadi pelangi dalam hari hariku. Menjadi
inspirasi yang baru dalam segala hal. Menjadi penyemangat dan menjadi sebab
dari senyum dan tawaku. Kamu tau pelangiku? Pelangi selalu datang setelah
hujan, dan membuat langit menjadi lebih indah. Aku langitnya, kau pelanginya. Kau
datang di saat kesedihan hadir lalu pergi. Kau mengusirnya. Mengganti rintik
hujan dan awan kelabu dengan kemilau warna warni cahaya. Mempesona
Aku tidak pernah berharap semua
itu terjadi, namun saat itu terjadi, yakinlah bahwasanya aku telah siap dengan
semuanya. Dan akan menjadi orang yang akan selalu mendukungmu. Tidak, aku tidak
akan membohongi diriku sendiri. Aku yakin semua akan baik baik saja, semua
hanya masalah waktu. Aku berjanji akan terus tersenyum. walaupun dengan memikirkannya mendadak perutku terasa sakit. Andaikan semua benar
terjadi, pastilah aku akan tetap tegap berdiri, memandang hamparan luas langit
dan percaya pelangi akan datang kembali.
Teruntuk kamu,
Pelangiku selama 14 bulan
Salam rindu, aku
Langit birumu